-->

Ketika Kita Memaafkan Seseorang Tanpa si Pelaku Tahu Kita Telah Mamaafkannya

Alkisah, Buddha sedang bersama murid-muridnya ketika seorang pria

berjalan dengan tatapan marah. Pria itu berpikir Buddha sedang

melakukan sesuatu yang salah.



Pria itu adalah seorang pengusaha yang gelisah dan menemukan anak-anak

telah menghabiskan berjam-jam waktunya dengan Buddha saat mereka

seharusnya menjalankan bisnis mereka, untuk menghasilkan lebih banyak

uang.



Pria itu merasa buang-buang waktu saja menghabiskan empat jam duduk di

samping seseorang yang matanya selalu tertutup tidak percaya. Inilah

yang membuat pengusaha itu marah.



Dengan sangat marah, pria itu berjalan lurus ke arah Buddha, menatap

matanya dan meludah.



Ia sangat marah, tapi ia tidak bisa menemukan kata-kata untuk

mengungkapkannya, ia hanya meludah ke arah Buddha.



Buddha hanya tersenyum. Ia tidak menunjukkan kemarahan, meskipun

murid-murid di sekelilingnya marah.



Mereka ingin bereaksi, tapi tidak bisa, karena Buddha ada di sana.

Jadi, semua orang hanya menggigit bibir bawah mereka dan merapatkan

tinjunya.



Setelah pengusaha itu meludahi Buddha dan menyadari tindakannya tidak

menimbulkan reaksi, ia berjalan terhuyung-huyung.



Buddha tidak bereaksi atau mengatakan apapun. Ia hanya tersenyum. Dan

itu cukup mengejutkan orang yang marah.



Untuk pertama kali dalam hidupnya, pria tersebut bertemu seseorang

yang hanya tersenyum saat ia meludahi wajahnya.



Pria pengusaha itu tidak bisa tidur semalaman dan seluruh tubuhnya

seperti mengalami transformasi. Ia menggigil, gemetar. Ia merasa

seolah seluruh dunia telah berubah terbalik.



Keesokan harinya, pria itu pergi menemui dan mencium kaki Buddha,

serta berkata, "Mohon maafkan saya! Saya tidak tahu apa yang saya

lakukan."



Buddha menjawab, "Saya tidak bisa. Maaf!"



Semua orang termasuk murid-murid Buddha terperangah. Buddha kemudian

menjelaskan alasan pernyataannya.



Katanya, "Mengapa saya harus memaafkan Anda, bila Anda tidak melakukan

kesalahan apapun?"



Pengusaha itu tampak terkejut dan ia memberi tahu Buddha bahwa ialah

yang telah meludahinya.



Buddha berkata, "Oh! Orang itu tidak ada sekarang. Jika saya pernah

bertemu dengan orang yang Anda ajak bicara, saya akan memberitahunya

untuk memaafkan Anda. Bagi orang yang berada di sini, Anda tidak

melakukan kesalahan."



Itulah belas kasih yang nyata.



Belas kasih tidak mengatakan, saya memaafkan Anda.



Memaafkan harus sedemikian rupa sehingga orang yang dimaafkan, tidak

tahu bahwa kita telah memaafkan mereka.



Mereka bahkan seharusnya tidak merasa bersalah atas kesalahan mereka.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ketika Kita Memaafkan Seseorang Tanpa si Pelaku Tahu Kita Telah Mamaafkannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel